Senin, 24 Januari 2011

RANU PANI, POS PERTAMA MENUJU PUNCAK TERTINGGI DI PULAU JAWA; MAHAMERU, PUNCAK GUNUNG SEMERU

Ahad, 23 Januri 2011, perjalanan dimulai pukul 06.00 berangkat dari kota Malang dalam acara rihlah bersama teman-teman kontrakan. Tim camping berangkat bersama rombongan tim sepeda gunung “pedal alas” menggunakan truk.
Sebenarnya perjalanan bisa dilakukan dengan menggunakan sepeda motor menuju lokasi, akan tetapi karena edisi yang akan dilakukan oleh tim sepeda gunung saat itu adalah down hill, jadi dibutuhkan kendaraan yang bisa mengangkut sepeda-sepeda mereka menuju atas.


selain itu, faktor cuaca ekstrim dan belum adanya pengalaman menjelajahi daerah tersebut juga menjadi pertimbangan untuk tidak melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor. 5 sepeda gunung dengan 5 bikernya beserta tim camping diangkut menuju tumpang. Dari tumpang, rombongan turun untuk melakukan pergantian kendaraan. Bukan menggunakan kendaran tipe lain, akan tetapi masih sama menggunakan truk. Bedanya, truk yang digunakan untuk melakukan perjalanan selanjutnya hanya memiliki 4 ban. Hal ini dipengaruhi oleh faktor jalan menuju atas, yang hanya bisa dan boleh dilewati oleh maksimal kendaraan roda 4. Truk yang kami gunakan tersebut bukan truk sewaan khusus, akan tetapi istilahnya kami nunut truk pengangkut pupuk yang menyuplai pupuk di daerah camping kami. Bukan hanya itu, ternyata sopir truk yang kami gunakan tersebut sudah cukup akrab dan kenal dengan tim sepeda gunung yang bersama kami. Jadi, istilahnya kami hanya membayar jasa nunut yang lumayan lebih miring daripada menyewa truk khusus. Dari tumpang, truk rombongan menuju ranu pani dengan medan tanjakan selama perjalanan. Selama perjalanan, tersaji pemandangan alam pegunungan yang subhanallah begitu menakjubkan.


Memasuki daerah konservasi taman nasional Bromo-Tengger-Semeru melewati jalur coban pelangi, coban trisula, desa gubugklakah, perbatasan malang-lumajang, dan akhirnya sampai di desa ranupani. Tapi bagi saya, pemandangan alam yang paling menakjubkan selama perjalanan adalah pemandangan lipatan-lipatan lereng pegununungan tengger yang dihiasi oleh jurang savanna hijau yang mulus dilihat dari atas, dipadu dengan kelokan cerukan antara bukit-bukit yang terjajar dan tersusun rapi. Tak kalah menakjubkan lagi, ternyata pemandangan yang dahsyat itu membelakangi kawah gunung bromo yang ketika itu juga saya lihat menyemburkan asap putih kecoklatannya, disertai sriwing-sriwing dentuman gemuruhnya.



Subhanallah, sekali lagi kehebatan pemandangan yang sungguh menakjubkan tersebut membengkitkan decak kekaguman yang luar biasa, Allah-lah arsitek hebat di balik itu semua. Namun, hal itu baru bisa saya saksikan ketika dalam perjalanan pulang. Hal ini karena ketika dalam perjalanan berangkat, pemandangan yang tersaji hanyalah kabut tebal di samping kiri-kanan jalan, sehingga kami tidak menyadari bahwa yang tersembunyi di balik kabut tersebut adalah jurang-jurang curam dan cukup menantang nyali. Perjalanan menuju lokasi kami tempuh sekitar dua setengah jam. Lamanya perjalanan tersebut terutama dipengaruhi oleh medan jalan yang tidak jarang membuat truk yang kami tumpangi harus berjuang keras melawan tanjakan-tanjakan yang diguyur air hujan. Klomat-klamit bibir ini mengucap takbir berharap Allah SWT meridloi perjalanan ini sampai tujuan. Nah, sekitar 150 menit kami lalui dan sampailah akhirnya kami di tempat berangkat kami melakukan hiking. Kami turun dari truk disambut oleh sebuah danau yang bernama ranu pani.


Cukup tenang airnya pada saat itu. Mengurungkan niat sejenak untuk duduk menikmati indahnya danau, kami langsung melakukan hiking ke tempat camping di pinggir danau ranu renggulo. Di tempat itulah kami menginap, berbagi cerita, masak dan makan bersama yang jarang dilakukan ketika di kontrakan, mencoba berusaha menghangatkan suasana dinginnya alam pegunungan yang membekukan pergelangan tangan dengan hangatnya ukhuwwah di antara kami.


Dengan suasana baru, peralatan yang seadanya, mencoba hidup akrab bersanding alam, hingga merasakan begitu indahnya sebuah kebersamaan.


Namun, satu hal yang menjadi catatan penting saya, di lokasi kami melakukan camping ternyata banyak terdapat sampah yang berserakan. Baik di danau-nya maupun di luar danau. Entah apa yang menyempatkan seseorang membuang sampah sembarangan di alam seindah ini. Sehingga tidak terasa indah lagi akhirnya. Ada seseorang yang berkata, “alah, toh cuma sampah kecil yang tidak akan memenuhi tempat yang seluas ini, lagian kan hanya saya yang membuangnya di sini”. Mari tersenyum dan kita coba tanyakan, “meskipun demikian Pak, ini bukan tempat sampah. Dan lagi, jika orang yang berpikir seperti Anda itu hanya 1 orang di dunia ini, mungkin masih bisa ditolerir Pak, tetapi siapa tahu jika sendainya seluruh orang di dunia ini berpikiran seperti Anda? Anda pasti sudah tahu apa yang terjadi….Let’s_Save_The_Nature.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar